Teruntuk Pemilik Tulang Rusuk, Inilah Sepenggal Kisah dan Harapku

Teruntuk seseorang yang telah dituliskan namanya bersanding dengan namaku di Lauhul Mahfuz, teruntuk seseorang yang masih dalam anganku, yang belum kutahu siapa seseorang itu. Dalam tulisan ini kuceritakan tentang Diriku, tentang masa penantian dan tentang harapanku untuk pemilik tulang rusuk ini.

Berawal dari Diriku, Saya yaitu wanita umum yang tidak terlepas dari banyak salah, wanita yang penuh khilaf tetapi mendamba juga akan kesempurnaan. Saya yaitu wanita yang mempunyai masa kelam dalam perjalanan yang lalu. Dalam almamater yang Saya sandang tidak lepas dari coretan tinta hitam. Dalam kisahku yang cukup panjang banyak narasi yang tidak sesuai sama ketentuan.

Mengenai perjalanan yang sudah Saya lalui, Saya menginginkan Kau tahu kalau Saya tidaklah wanita shalehah yang anggun parasnya, yang elok sikapnya, yang senantiasa tunduk pandangannya. Saya tidaklah wanita prima serta istimewa seperti dalam bebrapa cerita insfiratif itu. Akhlakku jauh dari kata prima, tingkah lakuku penuh dengan salah, agamaku masih tetap minim pengetahuan.

Ahh, kelihatannya tidak butuh sekali lagi panjang lebar kujelaskan mengenai masa laluku karna kutahu yang kau ingin yaitu perubahanku.

Dulu Saya sempat jatuh hati serta pilih untuk mempunyai yang tidak semestinya Saya tentukan, tetapi saat ini Saya sadar nyatanya itu yaitu satu dosa sampai kuputuskan untuk menyudahi serta saat ini Saya sendiri. Tidaklah hal gampang mengambil keputusan untuk sendiri sesudah dahulu ada hati yang temani, namun Saya percaya tentu sendiriku ini yaitu kedudukann tinggi.

Saya pilih sendiri bukanlah karna tidak ada hati yang memohon sharing tapi terutama karna Saya mengerti yang sejati akan tiba hampiri dengan kasih suci tanpa ada janji-janji tidak tentu, seseorang imam yang menyucikan cinta diatas restu Sang Pencipta.

Dalam penantian ini, Saya berupaya memantaskan diri, melakukan perbaikan perilaku serta menyempurnakan keislamanku. Hingga jika tiba saatnya engkau datang menjemputku, engkau sudah menemukanku dalam pelukan iman serta islam yang sebenarnya.

Saya tidak paham seperti apa Dirimu wahai yang memiliki tulang rusukku, tetapi Saya mengharapkan engkau yang ditakdirkan untukku yaitu seorang yang dapat menuntunku jadi wanita shalihah sebagai harta paling bernilai bagimu, seorang yang dapat membimbingku kejalan hidayahnya, Engkau yang selalu menyemangatiku menguber pahala dan yang dapat menegurku dengan bhs kelembutan serta melindungi kesucian rumah tangga.

Calon imamku, jujur saja Saya iri pada bebrapa cerita cinta tokoh insfiratif itu, Saya iri pada cinta Rasulullah pada istrinya, Saya iri pada cerita cinta Ali bin Abi Thalib juga pada cerita asmara Abu Thalhah. Tetapi Saya juga sadar diri, Saya bukanlah juga seperti perempuan-permpuan dalam cerita itu. Saya tidaklah seperti Aisyah yang wajahnya cantik jelita dan cerdas, Saya bukanlah seperti fatimah yang berparas ayu, santun serta patuh melaksanakan ibadah dan pekerja keras. Saya bukanlah juga seperti Ummu Sulaim yang berkedudukan mulia dan tidak silau juga akan harta, tahta serta rupa.

Calon imamku, tidak kesempurnaanmu yang Saya tunggulah karna Diriku tidak jauh dari kata kekurangan. Saya mengharapkan keimananmu dapat menuntunku kejalanNya, dapat mengarahkan langkahku menuju syurgaNya.

Diluar itu, perjalanan yang sudah Saya lewati nyatanya begitu kelam hingga cahayaku meredup dengan perlahan-lahan, oleh karenanya Saya mengharapkan kedatanganmu padaku dapat menerangi ruangan gelap itu, Saya mengharapkan cahayamu cukup jelas untuk kau untuk bersamaku.

Saya sadar kalau seorang yang juga akan bersanding jadi imamku yaitu cerminan Diriku, di sini Saya melakukan perbaikan kuharap di sana engkau juga demikian, di sini Saya melindungi diri Saya berharap di sana engkau melindungi hati. Di sini Saya sabar menunggu kuharap engkau selalu mencari, sampai takdirnya mempertemukan serta menjadikan satu kita pada cinta yang Samawa.

Duhai calon imamku yang sudah tertulis di lauh mahfuz itu, siapa saja engkau serta dimana saja engkau, Saya menunggumu dengan sepenuh hati. Datanglah padaku dengan membawa cintamu pada Tuhanku lebih dari cintamu pada diluar itu. Tersebut cinta sebenarnya yang Saya damba dalam penantian ini, cinta imamku pada Tuhannya ada di atas semua cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *