Uniknya Masjid di Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat

Uniknya Masjid di Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat

Uniknya Masjid di Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat

Eko Nurwanto memainkan kakinya untuk melewati semua pemain yang lain, bola terus dia pegang hingga garis pertahanan lawan, tampak ini akan menjadi sebuah pertandingan seru karena tim Eko sudah tertinggal 1-0 menjelang babak pertama selesai ini. Jika dia berhasil membawa bola dan menceploskan bola kedalam gawang bukan tidak mungkin pertandingan ini menjelang babak kedua nanti akan semakin seru lagi., dia dengan kekuatan kakinya masih terus membawa bola kurang satu lagi yakni penjaga gawang yang harus dia lewati, dan gol pun tercipta. Semua masyarakat yang melihatnya ikut bersorak gembira hingga ada sebuah suara adzan dari Masjid jika ternyata itu semuanya hanyalah khayalan belaka. Tapi semuanya sudah terlanjur senang dengan kisah yang sebenarnya hanyalah karangan Eko semata.

Perlu diketahui jika Eko adalah pemain antar kampong yang punya cita cita bisa menjadi pemain sepakbola professional karena dia percaya dengan kemampuannya jika dia sesungguhnya bisa menjadi seorang pemain professional. Cerita itu dia umbar di warung depan Masjid semua orang tampak percaya dengan keyakinannya tapi ada juga yang menertawakan kisah lucunya itu. Apalagi dia hanya bisa menenadang dengan kaki kanannya saja, dia juga menjadi orang perokok berat dan tidak menjaga kesehatan sama sekali. Inilah yang menjadi hambatan dia untuk menjadi seoarang pemain sepakbola berbintang lima seperti yang dia harapkan. Masihd di tempat depan Masjid itu meraka masih berkumpul untuk menceritakan kisah kisah dan cita cita masing masing ketika mereka masih kecil. Maklum mereka hanya lah orang orang yang kerjanya tidak menentu hanya menjadi seorang yang tidak memiliki apapun untuk menjadi seorang manusia yang terbaik. Ini adalah sebuah tantangan yang besar yang seharusnya bisa saja dia lakukan seorang diri untuk menempuh sebuah keputusan yang bisa saja tidak bisa dia miliki karena ini hanyalah sebuah ujian yang tidak mungkin terwujud tanpa sebuah usaha dan keputuasan asaan manusia itu sendiri.

Melihat Masjid yang berdiri tegak didepannya membuat Eko tersadar akankah dia sesungguhnya harus kembali ke masa kecilnya dulu yang tidak memiliki misi apapun selain hanya bermain dengan teman temannya. Bergembira dan terus saja bermain, dia masih ingat ketika membuat sebuah mobil mobilan dari bamboo yang dia potong potong kecil lalu rodanya dia buat dari alas kaki sandal dia bulati bersama teman temannya karena ini hanya sebuah ilusinya sebuah angan ketika masa kecil itu sudah membuat dia bahagia. Ketika berangkat ke Masjid untuk belajar mengaji dia juga sangat bahagia dengan mobil mobilan karyanya sendiri seoalah dia sudah mengendari mobil Ferrari dan menjuarai sebuah grand prix.