Alat Deteksi Covid

Sebagai salah satu alat skrining, GeNose C19 yang ditemukan oleh para ahli dari UGM ini diharapkan dapat membantu mendeteksi penderita COVID-19 yang tidak bergejala, sehingga tingkat penyebaran COVID-19 bisa lebih terkontrol. Oleh karena itu, mendiagnosis penyakit COVID-19 sebenarnya tidak cukup mengandalkan tes GeNose C19. Sampai saat ini, hasil tes PCR dan pemeriksaan dari dokterlah yang masih menjadi standar untuk mendiagnosa COVID-19, sementara pemeriksaan lainnya hanya digunakan untuk skrining.

Menurut Kuwat, setelah izin edar diperoleh maka tim akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN dan Kemenristek/BRIN untuk didistribusikan. Selain itu, terdapat pula dua angka desimal untuk menunjukkan seberapa kuat prediksi yang dihasilkan usai pemeriksaan. Menurut GM Divisi Kesehatan di Dompet Dhuafa, dr Yeni Purnamasari, MKM, jika hasil prediksinya kuat, maka angka desimal tersebut akan berada di angka zero,6 atau 60 persen, sementara jika di bawah itu maka hasilnya lemah.

Anda juga bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi tersebut. Menurutnya, saat hasil reaktif diperoleh lewat alat itu, tak selalu harus diulang. Apabila hasil pengetesan pertama lewat alat itu sudah memenuhi syarat-syarat prakondisi pengetesan probabilitas pengujiannya mendekati one hundred persen. Kedua, pasien diizinkan untuk makan satu jam sebelum pengetesan namun disarankan tidak mengkonsumsi makanan dengan aroma sensitif seperti jengkol, durian, juga petai.

Kelemahan genose sebagai deteksi covid

GeNose diklaim bekerja secara cepat dan akurat dalam mendeteksi VOC yang terbentuk karena infeksi corona. Namun, apa pun hasil tes GeNose C19, semua orang harus tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. GeNose membutuhkan waktu sekitar 2−3 menit untuk mendeteksi ada tidaknya VOC yang bisa menandakan COVID-19. Satu unit alat GeNose diperkirakan mampu melakukan sekitar 120 kali pemeriksaan per harinya. Untuk pasien yang sedang memiliki sakit gigi dan membuat bau napasnya menyengat juga menjadi catatan. Kuwat menuturkan, dalam penelitian atas alat ini timnya memgakui belum sempat memisahkan deteksi bau napas akibat sakit gigi dan lainnya.

Alat ini, ujar Kuwat, belum memiliki kemampuan untuk level diagnostik kasus seperti halnya tes swab atau PCR. Tes GeNose C19 merupakan alat inovasi yang diciptakan oleh Universitas Gadjah Mada – bertujuan untuk membantu screening Covid-19. Alat ini diklaim memiliki cara kerja yang ringas dan cepat dalam mendeteksi virus.

Meski demikian penggunaan GeNose tidak serta merta menggantikan tes Rapid dan Antigen. Nantinya hasil dari GeNose sendiri menjadi pelengkap kedua tes yang lebih dulu diterapkan tersebut. PT Kereta Api Indonesia melakukan uji coba pemeriksaan GeNose di Stasiun Pasar Senen, Rabu (3/2). Dalam kegiatan uji coba tersebut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi serta Menteri Riset Slot Online Indonesia dan Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro turut hadir meninjau jalannya uji coba. Epidemiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dr Riris Andono Ahmad menuturkan, saat ini terdapat sejumlah alat yang dapat digunakan untuk mengetahui terduga Covid-19 dan mendiagnosisnya.

Menristek berharap GeNose bisa segera dimanfaatkan secara masif oleh masyarakat. Dia mentargetkan setidaknya pada bulan Desember 2020 alat ini dapat digunakan untuk skrining. Harapannya, dengan distribusi yang semakin meluas, maka GeNose dapat membantu penanganan Covid-19 yang saat ini masih terjadi. “Terutama membantu dalam upaya deteksi cepat Covid guna proses tracing dan monitoring,” pungkasnya. Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Hermawan Saputra mengatakan penggunaan GeNose sebagai skrining awal COVID untuk pelaku perjalanan merupakan hal yang tidak tepat.